Minggu, 24 November 2019

Filsafat: Pengertian dan Sejarahnya

Hatta dalam (Tafsir, 2008:9) mengemukakan bahwa pengertian filsafat lebih baik tidak dibicarakan terlebih dahulu, karena nanti bila orang telah mempelajari filsafat, orang itu akan mengerti filsafat berdasarkan konotasi filsafat yang ditangkapnya. Begitu pula dengan Langeveld yang berpendapat bahwa saat orang berfilsafat sendiri, ia akan tahu maksud filsafat, makin dalam ia berfilsafat, ia akan makin mengerti apa itu filsafat Langeveld dalam (Tafsir, 2008:9).Hasbullah Bakry dalam (Tafsir, 2008:10) mengatakan bahwa filsafat adalah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan yang dapat dijangkau manusia dan apa yang seharusnya dilakukan manusia setelah mencapai pengetahuan tersebut. Disamping pendapat tokoh itu, mari mencoba mendefinisikan filsafat secara etimologi. Poedjawinata dalam (Tafsir, 2008:9) menyatakan bahwa kata filsafat berasal dari kata Arab yang berhubungan erat dengan kata Yunani, bahkan asalnya memang dari kata Yunani philosophia, yang merupakan kata majemuk dari philo dan sophia; philo artinya cinta dan sophia yang berarti kebijakan. Dari kutipan tersebut dapat diketahui bahwa filsafat ialah keinginan yang mendalam untuk mendapat kebijakan, atau keinginan mendalam untuk menjadi bijak. Namun kembali lagi pada pengertian filsafat menurut Hatta, bahwa konotasi filsafat adalah berbeda pada setiap orang yang mempelajarinya.
Menengok manfaat filsafat, kita akan disuguhkan hal hal yang berbeda pula karena konotasi filsafat setiap orang pun sudah berbeda. Tetapi, seperti yang dikemukakan Socrates, tidak semua kebenaran itu subjektif. Maka dari itu mari kita menelaah apa itu manfaat filsafat bagi kita. Hatta dalam (Tafsir, 2008:12), melihat ke sejarah filsafat orang orang Grik yang memiliki dongeng tentang dewa dewa, alam sekitar dan keajaiban di alam yang menimbulkan heran, takjub, takut dan kemudian timbul fantasi. Pada awalnya manusia hanya memiliki fantasi, tidak ingin membuktikan kebenaran fantasi itu karena kepuasan ruh ada dalam fantasi tersebut. Lalu ada yang ingin mengetahui lebih jauh, dan bertanya, kritis terhadap keheranan dan fantasinya. Dari uraian tersebut, terlihat bahwa manfaat filsafat adalah untuk pembuktian sesuatu hal yang muncul dari pertanyaan fikiran manusia secara historis:empiris, sistematik:ilmiah, dengan metode pemikiran tertentu dengan ukuran kebenaran filsafat adalah Logis.
Bidang kajian filsafat tercakup dalam 3 hal, yakni Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi. Ontologi berarti cabang filsafat yang mempelajari hakikat realitas yang ada. Bidang ini berfokus pada apa yang dipelajari oleh disiplin ilmu. Dalam ensiklopedia filsafat, Epistemologi berarti cabang filsafat yang berkenaan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian pengandaian dan dasar dasarnya serta klaim umum terhadap pengetahuan yang dimiliki yang didalamnya terdapat Epistemologi metafisika-rasional, idealis, dan empirisis. Aksiologi adalah nilai atau penilaian. Aksiologi menanyakan untuk apa pengetahuan yang digunakan ?, Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan moral ?, Bagaimana kaitan antara cara pengguanaan dan kaidah moral ?, Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasional metode ilmiah dengan norma moral atau profesional ? (Jujun, 1985:34-35).
1. Aliran aliran filsafat tercipta karena perbedaan konotasi dalam mendefinisikan filsafat itu sendiri. Setiap aliran mempunyai keistimewan dan pandangan tersendiri. Rasionalisme menyatakan bahwa untuk mempelajari dan membuktikan pengetahuan, akal/rasio yang berdasar kaidah kaidah logika yang memiliki objek empiris. Empirisisme adalah doktrin filsafat yang menekankan peranan pengalaman dalam memperoleh pengetahuan dan mengecilkan peranan akal. Filsafat kritisisme memberikan kritik kepada aliran Rasionalisme dan Empirisisme. Materialisme menguatkan paham bahwa di dunia ini hanya ada materi/yang wujud, tidak ada jiwa yang tanpa badan, yang ada hanya badan yang berisi jiwa. Idealisme berkata bahwa hakikat dunia fisik hanya bisa dimengerti melalui kebergantungannya dengan jiwa dan roh, ini merupakan lawan dari Materialisme. Positivisme mirip dengan empirisme, hanya saja positivisme sama sekali tidak mengakui intuisi, yang ada hanya fakta obyektif-ilmiah. Pragmatisme William James adalah untuk mengukur sebuah kebenaran suatu konsep, kita harus mempertimbangkan apa konsekuensi logis dari penerapan konsep tersebut. Jadi pengertian suatu konsep adalah konsekuensi logis konsep itu. Dan sekularisme adalah filsafat yang ditambah dengan etika sebagai interpretasi kepada kehidupan manusia tanpa percaya kepada Tuhan.
Hakikat ilmu. Ilmu adalah pengetahuan yang dipahami untuk memahami sesuatu. Ilmu tidaklah sama dengan pengetahuan. Setiap ilmu adalah pengetahuan, namun sebuah pengetahuan belum tentu sebuah ilmu. Filsafat ilmu berasal dari bahasa Inggris: Philosophy of Science. Filsafat ilmu adalah berfilsafat dengan menelaah dan menyelidiki secara komprehensif dan radikal seluruh ilmu, terutama hakikat tanpa mengabaikan strukturnya. Pendekatan dalam filsafat ilmu mempunyai beberapa bentuk yang berbeda tergantung cara menyimpulkan sesuatu tersebut. Pendekatan Deduktif berawal dari esensi, peristiwa maupun fakta fakta yang bersifat umum dan telah diketahui juga diyakini sehingga berakhir pada kesimpulan khusus. Pendekatan Induktif berkebalikan dengan pendekatan Deduktif. Pendekatan Rasionalisme bersifat ilmiah dengan pembuktian, analisis dan logika berdasarkan fakta yang ada. Sedangkan pendekatan Empirisme menekankan pada pengalaman/peristiwa yang dialami.
Tahapan perkembangan filsafat ilmu dibagi menjadi empat periode yaitu;
1. Periode klasik dan abad pertengahan; 1880, para filsuf fokus pada penelitian dalam linngkup cara dan melewati makna dari sebuah filsafat alam.
2. Periode abad 17 dan 18: Dari manifesto hingga kritik; filsafat dari Descartes mendominasi perkembangan filsafat ilmu pada masa ini sehingga melahirkan aliran Empirisme, Rasionalisme, dan Kantianisme
3. Periode Perang Dunia 1: Filsafat fisika klasik; ilmu empiris sangat mendominasi sehingga melahirkan paham Materialisme dan Marxisme juga lahirnya Teori Hukum
4. Periode abad 20; filsafat menjadi disiplin ilmu yang semakin kritis dan profesional karena problematika yang ada didalamnya semakin terperinci seiring dengan krusialitas perkembangan manusia pada masa teknologi.
Dalam Filsafat Ilmu, terdapat substansi yang terdiri dari (1)Fakta, ilmu menjelaskan tentang fakta dan subjek materinya berupa analisis prosedur logis dari ilmu, artinya filsafat ilmu dan ilmu adalah satu landasan utama. (2)Konsep, filsafat ilmu mempunyai konsep dimana yang seringkali dipertanyakan adalah apa itu ilmu dan bagaimana ilmu tersebut disusun dan dikembangkan. (3)Logika, logika adalah berfikir menggunakan akal budi manusia, dalam hal ini logika membahas tentang definisi, penguraian, perbandingan, dan pencarian relasi dari hasil pengerjaan dan pengolahan pengetahuan. (4)Silogisme, adalah penggabungan 3 macam asumsi, dua menjadi premis, satu menjadi konklusi. (5)Teori, adalah ide ide, konsep, hasil analisis dan kesimpulan kesimpulan yang menjadi landasan praktik dan pelaksanaan pendidikan.
Dimensi filsafat memiliki tiga macam yaitu, Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi. Secara garis besar, Epistemologi membicarakan sumber dan cara memperoleh pengetahuan, Ontologi membicarakan pengetahuan itu sendiri, dan Aksiologi membicarakan guna pengetahuan itu. Manusia memperoleh pengetahuan melalui tiga cara, yaitu cara sains, cara filsafat(logika,akal), dan cara latihan rasa(intuisi). Setelah membenahi cara memperoleh pengetahuan, filosof mulai menghadapi objek objeknya untuk memperoleh pengetahuan. Objek objek itu dipikirkan secara radikal sampai pada hakikatnya. Bidang pembicaraan Ontologi ini sangat luas sekali, segala yang ada dan mungkin ada, yang boleh juga mencakup pengetahuan dan nilai. Untuk mengetahui hakikat dari suatu pengetahuan terdapat beberapa aliran, diantaranya Materialisme, Idealisme, Dualisme, Skeptisisme, Agnotisisme, Kosmologi, Antropologi, dan Teisme. Setelah mengetahui apa yang hakikat, nilai kegunaan adalah dimensi yang selanjutnya. Guna dari filsafat dapat dilihat melalui tiga pandangan yaitu filsafat sebagai kumpulan teori (filsafat digunakan untuk memahami dan mereaksi-dunia pemikiran), filsafat sebagai pandangan hidup (filsafat menjadi pedoman, isinya berupa ajaran dan ajaran itu dilaksanakan dalam kehidupan) dan filsafat sebagai metode pemecahan masalah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perencanaan Pendidikan dan Pendataan

Ada empat persoalan pokok dalam perencanaan pendidikan, yaitu tujuan pendidikan, status sistem pendidikan, alternatif pemecahan masalah, da...