Senin, 28 Oktober 2019

Dimensi Keberagamaan dalam Pengertian Hidup

     Manusia itu spesial, ia tidak tercipta dari kesalahan. Tuhan menciptakan manusia dari tanah. Ya, saya bukanlah ateis, Tuhan tetap menjadi tempat berdiskusi secara batiniah, berjalan secara lahiriah, dan pandangan dalam dinamika fisika maupun metafisika. Menjadi seorang yang beragama adalah salah satu kebahagiaan yang murni dari penciptaan Tuhan terhadap diri saya. Saya bersyukur menjadi manusia yang diciptakan dari tanah, manusia menapak tanah, berawal dan berakhir dari tanah. Agama adalah cara hidup atau tuntunan hidup selama di dunia. Konsekuensi dari hidup adalah akhirat, keduanya seperti sayap burung. Hidup ini tidaklah tentang bagaimana saya melalui hidup ini dan mendapat garis finish nya, tetapi hidup ini adalah tempat merayap, merangkak, berjalan dan berlari untuk menemukan garis start. Hidup dalam artian kehidupan beragama adalah ujian, ya ujian. Dunia ini, bumi tempat tinggal manusia ini hanyalah sebuah ruangan dalam dimensi waktu dan tempat yang diciptakan sebagai arena dalam ujian manusia. Realitas dalam agama ini belum tentu dapat dicapai secara metafisika dalam filsafat, karena ukuran kebenaran dari agama adalah percaya. Agama adalah sesuatu yang dimulai dari percaya, tidak seperti ilmu pengetahuan lainnya yang dimulai dari ketidakpercayaan. Sebagai orang yang beragama, tentu saya mencoba untuk mengetahui, mengerti, dan mengamalkan ajaran dan doktrin-doktrin dari agama yang saya peluk. Semuanya adalah bagian dari konsekuensi dalam beragama. Dimensi keberagamaan ini menjadi salah satu dari sifat hakikat manusia. Kecenderungan manusia untuk beragama adalah hal yang telah menjadi sifat nya sejak penciptaan manusia terjadi. Jadi apa yang akan menjadi kepercayaan seseorang, apakah ia akan taat kepada tuhan ataukah menjadi agnostik atau bahkan ateis, idealis atau bahkan materialis, adalah proses bagaimana cara ia menelaah dan mempelajari makna hidup ini. Mungkin penjelasan dalam teks ini tidak terlalu universal, dikarenakan saya menulis teks ini berdasarkan dimensi keberagamaan saya. Subjektivitas dari setiap agama adalah berbeda. Menjadi sama dalam berbagai agama tidak dapat dilakukan melalui pendekatan subjektif setiap agama, diperlukan objektivitas untuk mencapainya. Keyakinan dalam perbedaan agama dapat dipahami sebagai toleransi dalam hidup. Tidak semua agama dapat menjadi baik untuk agama lainnya, tetapi setiap manusia yang beragama, bahkan yang tidak beragama maupun tidak percaya tuhan pun mampu untuk saling memahami. Jadi Hidup dalam dimensi keberagamaan tidak dapat dipisahkan dari keseluruhan agama. Dalam hal fundamental, setiap agama adalah berbeda dan saling menjadi subjektivitas tersendiri yang absolut dan saling menjadi spesialitas dari pengikut-pengikutnya. Pembicaraan mengenai mana agama terbaik tidak perlu dilakukan karena pada dasarnya, itu tidaklah rasional. Ya ukuran kebenaran dari pertanyaan tersebut tidak rasional karena, dari kandungan fundamental setiap agama sendiri adalah berbeda. Untuk mengakhiri teks ini, saya akan memberikan sebuah konklusi singkat dari keseluruhan teks yang mungkin sedikit membingungkan bagi anda sebagai pembaca. Hidup ini tercipta, tidak dari kesalahan, adalah sebuah ujian, dengan manusia sebagai peserta yang diikuti dengan masing-masing dimensi keberagamaan mereka. 

Perencanaan Pendidikan dan Pendataan

Ada empat persoalan pokok dalam perencanaan pendidikan, yaitu tujuan pendidikan, status sistem pendidikan, alternatif pemecahan masalah, da...